Bismillah…
Allah (Pemberi) cahaya (kepada)
langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang
tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan)
kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan
dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak
di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya
(saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas
cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia
kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah
Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. An-Nur:35)
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan
harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan
Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah
di
dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
(QS At-Taubah:;111)
Rizky Laela Nurlisa, anak kedua dari empat bersaudara.
Pemilik hobby Membaca, menulis, travelling, mendaki gunung, menyusuri pantai
dan berbagi. Sangat suka dengan sunset dipantai dan sunrise dipuncak gunung^.^
sii penikmat warna merah.
Suatu hari, ketika aku mulai mengukir namaku di
catatan perjalanan dakwah kampusku tercinta, ketika aku diminta menjadi Sekertaris
Umum FKDF, aku bertanya:
v
Mengapa aku yang dipilih?
v
Kenapa bukan orang lain yang memiliki kemampuan
dibandingkan diriku?
v
Kenapa aku?
Suatu masa, ketika keputusan yang pada
akhirnya memberikan aku pilihan antara “MAU atau HARUS” untuk menjalani amanah
baru sebagai Sekertaris Umum FKDF, kembali memaksaku
untuk bertanya:
v
Mengapa harus diriku yang belum bisa menjaga hijabnya dengan
sebenar-benarnya penjagaan?
v
Mengapa harus diriku yang masih kekanak-kanakan dalam menyikapi
berbagai hal?
v
Mengapa harus diriku yang masih memiliki banyak kelemahan ini?
Amanah itu indah,
itu yang kurasakan saat ini. Amanah itu cinta, tanda cinta dari-Nya, agar diri
selalu terjaga dari nafsu yang kadang tak terkendali. Amanah itu pengingat,
agar diri tak lepas, agar diri tak lengah, agar diri tak kikir untuk ikhlas
dalam beramal. Amanah itu sarana mendapatkan tiket ke surga bila diri bisa
menjaganya, walaupun di satu sisi amanah juga bisa menjadi jalan termudah
menuju kesesatan, menuju gerbang
ternganganya pintu neraka atas dosa yang justru tertumpuk karena tak
terkendalinya nafsu diri atas souvenir godaan yang menghampiri dan ingin
menjadi penghias kehidupan yang semakin tak kuasa menolak.
##-##-##
Alhamdulillah…,
bisa dipertemukan dengan saudara – saudara seperti kalian semua ya ikhwafillah J, belajar banyak hal,
ikhwan yang unik atau justru aneh, hehehe* walaupun sering juga
merasa kesal tapi kalian sungguh luar biasa. Akhwat yang
super tangguh penuh dengan kasih sayang Allah… tapi hidup jadi
semakin banyak souvenirnya ketika mengenal orang-orang seperti kalian. Rizky, mantapkan hati dan ikhlaskan diri untuk berjuang di sini, di jalan
dakwah ini, untuk FKDF, tidak ada alasan selain karna Allah. Tidak akan pernah
berhenti, berhentinya adalah nanti...saat Allah mempertemukan dengan
Syurga-Nya.
Ketika sekarang
diminta untuk memegang suatu amanah yang memang tidak bisa dikatakan ringan,
suatu keniscayaan aku merasa tidak berdaya, ingin menolak tapi tak kuasa, ingin
berkata ”tidak” tapi terbentur dengan pilihan ”mau dan harus”
yang terlebih dahulu disodorkan di hadapanku, ingin marah pada si pemberi
keputusan tapi juga terhalang oleh wajah harapan dari mereka, ingin....ingin....dan
ingin yang lain...tapi itu semua hanya tertahan di bagian hati yang terdalam,
hanya Allah dan kita sendiri yang tahu dan paling memahami kondisi kita yang
sesungguhnya. Allah...seandainya bisa, mungkin lebih baik berlari daripada
menerima amanah ini, tapi tentu saja TIDAK, karena Allah telah membukakan pintu
rahmatNya seluas-luasnya untukku, mengapa harus menolaknya, sedangkan diantara
sekian banyak hambaNya, Allah justru membukakan dan mempersilahkan aku untuk
memasukinya dan meraup setiap detik yang terlalui dengan sepenuh ruh penyerahan
diri. Haruskah ada yang disesali di setiap keputusanNya? Sedangkan tak ada kata
SEANDAINYA bukan? Yang ada hanyalah kehendak Allah semata, ada ibroh yang
keindahannya lebih abadi daripada musibah sesaat. Yang terpenting bagiku
saat ini adalah menjalani semuanya dengan KEIKHLASAN. Walaupun dalam
pelaksanaannya... ternyata harus ”berdarah-darah” karena ternyata tidak mudah,
tapi tidak juga...Istiqomah yang ternyata sulit, tapi insya Allah BISA.
Tapi kemudian memang benar, untuk apa merasa terbebani,
tertekan, menyesal, dan bersedih akan suatu amanah, sementara kita tidak tahu
apa yang akan Allah persiapkan untuk kita, sedangkan senyuman
keikhlasan dan penerimaan akan terasa lebih indah pada akhirnya. Aku jadi belajar bahwa selalu
ada kenikmatan di setiap ketentuanNya, awalnya tidak pernah menyukai amanah
yang diberikan, tapi pada akhirnya...merasa cinta, merasa sayang, merasa
bersyukur. Setiap jenak waktu yang berlalu adalah tarbiyah langsung dari Nya,
begitu banyak nikmat yang telah Allah berikan padaku pada kita, maka untuk
sedikit waktu yang harus kita luangkan untuk agamaNya, haruskah kita merasa
terbebani? Maka, nikmatNya yang manakah yang akan kita dustakan?
##-##
Mungkin, semua
kembali ke masing-masing kita. Relativisme pribadi selalu tak tergoyahkan
ketika kita berbicara mengenai kemampuan diri (gitu kata tetehku). Selalu ada
yang indah dari ketetapanNya.
Pesannya....
”Lakukanlah semuanya dengan sepenuh ruh..., insya Allah tidak akan pernah
ada yang tersia. Hati akan rindu pada pada yang dicinta. Bila kau mencintai
Allah, maka kau pun akan rindu pada perjuangan membela agamaNya. Karena saat
ini semakin sedikit orang yang tergerak untuk tetap di sini...di jalan ini....,
maka izinkanlah diri kita menjadi bagian dari perjuangan ini. Agar dekapan
cintaNya selalu kita rasakan dan bersemi di hati kita. Bila suatu hari kau
terluka, maka biarlah Allah yang mengobati hatimu, yang menyembuhkan lukamu,
karena sesungguhnya Allah itu dekat dan tidak pernah meninggalkan kita.
Berharaplah hanya padaNya. HASBIYALLAH adalah kata terindah untuk perjuangan
ini”.
”KETIKA ENGKAU PUNYA MIMPI DAN CITA-CITA UNTUK DIWUJUDKAN...,
ALLAH TELAH MEMBUKA DAN MEMANGGIL NAMAMU”